Minggu, 16 Oktober 2011

Khotbah Kebaktian Pembukaan Rapat Pendeta GBKP Senin 10 Oktober 2011 Di Suka Makmur, Sibolangit.


Syalom, mejuah-juah. Horas. Sebelum saya melanjutkan penjelasan khotbah ini, saya bersyukur kepada TUhan dan kepada panitia saya diberi kesempatan untuk membawa renungan dalam ibadah pembukaan Konven Pendeta ini. Ketika ditawari untuk tugas ini saya bertanya kenapa Ibu Pdt Bertha Tarigan, keanpa saya? Dan di jawabnya karena kebetulan thema yang dibahas adalah dari Perjanjian Baru pak. O begitu. Dan akhirnya saya saya sambut dengan baik. Saudara-saduara sebelumnya izinakn saya memperkenalkan diri di tengah-tengah kita, sekalipun sudah ada yang mengenal dan belum kenal. Nama saya Jonriahman Sipayung. Orang tua tinggal di Saran Padang, Dolok Silou. Melayani sebagai dosen fulltime di STT Abdi Sabda. Sudah berkeluarga, istri boru Purba, juga ikut bersama kita. Dia cantik dulu, dan juga saat ini. Kami dikarunia dua putra. Kami tinggal di Kampus STT dan bertetangga dengan Pdt. Dr. Jadiaman Perangin-angin. Dan tugas di STT di samping sebagai dosen saat hingga 2013 dipercaya sebagai Direktur pasca sarjana.
Saudara kekasih, mari kita lihagt kitab Galatia  ini. Paulus sebagai penulis kitab ini berbicara bahkan mendesak jemaat pentingnya hidup dalam tanggugjawab sebagai umat Allah. Pentingya hidup solidaritas terhadap terhadap manusia sebagai umat Allah. Kenapa saudara Paulus menekankan pentingnya bahasa tanggungjawab dan bahasa solidaritas ini. Untuk menjawab ini saya mengutip pandangan sorang ahli PB John M.G Barclay, dalam bukunya Obeying the truth, Paul Ethich in Galatians, menrutnya tujuannya adalah untuk mengajak menilai diri sendiri dan mengkritisasi diri sendri, supaya memiliki tingkat kesadaran etika yang tinggi.” Tentu ajakan ini sesuai dengan fenomena jemaat yang terjadi ketika itu yang sarat dengan keegosian, sarat narcisme merasa sor, enak sendiri. Saudara –saudara kekasih , kata narsisme kita pasti tau itu. Saya perhatikan di kamus kata narcis terkait dengan nama seorang Pemudua Narkiskos, yang dalam sejarahnya dia jatuh cinta dengan bayangannya sendiri, sutu ketika, ada sebuah kali yang bersih dan dalam. Dan dia meliaht banyangananya di kali ini. karena begitu cintanya dengan dirinya sendiri, sehingga dia hendak mengambil kecantikan itu tanpa dia sadar dia telah masuk ke dalam sungai yang dalam dan akhirnya meninggal. Sehingga orang yang narcis adalah orang yang hanya memperhatikan diri sendirinya , kelompok diri sendiri, marganya sendiri, dan tidak perduli dengan orang lain. Dan termasuk juga tidak perduli dengan kepedihan dan beban orang lain. Sosok mansuia seperti ini lambit  atau cepat akan megnamali hal yang sama seperti Narkiskos itu sendiri, tenggelam, jatuh sendiri, hanyut.
Saudara-saudara sama halnya dengan gereja-gereja saat ini termasuk gereja GBKP, nampaknya semangat kehadiran ke gereja kita menurun misalnya kalau di gereja kami GKPS kehadiran sekitar 35-40  % , dan 60 % lagi barangkali ada yang malas, ada yang pergi ke gereja lain. Dan nampaknya gereja beraliran kharismatik saat ini meningkat persentasi kehadirannya, persekutuannya. Tentu dengan keadaan ini gereja perlu menilai diri bahkan mengkritisi diri sendiri. Jangan-jangan tingkat kepedulian, dan tingkat kesolideran kita semakin kurang atau kabur? Atau jangan –jangan kita hanya sor sendiri dengan sistem-sistem yang tidak menyentuh dan tidak relevan lagi saat ini. Ini menjdi sebuah pertanyaan yang perlu dikaji lebih dalam lagi.
Saya membuat sebuah contoh gereja-gereja di China, bertumbuh pesat sekali saat ini. Mengapa contoh di China karena saya pernah studi di Hong kong 3,6 tahun. Di China sekalipun kegiatan-kegiatan gereja di awasi namun pertumbuhan gereja luar biasa banyaknya. Seperti yang dikatakan Mathews George Chunakara, Direktur Urusan Internasional dan Kesaksian Umum WCC, bahwa pertumbuhan Kristen di Cina "unik dan eksplosif." Awal tahun 1970-an, kekristenan hanya sekitar tiga juta orang namun sekarang, jumlah mereka mencapai 130 juta jiwa. Statistik ini saya kira ada benarnya. Hal ini saya hubungkan di Hong Kong sendiri yang jumlah penduduknya hanya 7 juta lebih sedikit tapi sekolah pendeta di Hong Kong ada 40 sekolah. Dan tentunya mereka yang yang lulus dari sekolah ini nantinya akan berdampak besar bagi dunia sekitarnya. Sekalipun mereka tidak semua menjadi pendeta, tetapi bekerja di lembaga-lembaga social atau NGO,  tetapi hidup mereka akan menjadi kesakisan bagi banyak orang. Dan saya kira semuan itu berdamapk pertumbuhan orang percaya. Banyak kegiatan-kegaitan yng ddilakuakn bukan hanya pegninjilan lagnsung, ttapi penegignjilan secara tidak langsung, msalnya dengna membuka les bahasa inggris, membuka posko-posko keseahtan, dan kegiatan social lainnya. Saya pernah mengkuiti sebuh kebaktian di Quanchou, ketika saya saya mau masuk ke gereja dan saya terkejud dei depan gereja itu di sediakan kaca mata yang biasa dipakai siapa saja ng membutuhkan. Dan kaca mata ini dalam jumlah yang banyak ada sampai 50 buah, dan saya bertanya kepda pentua gereja itu, pak itu kaca mata itu untuk apa? Jawab mereka itu adalah bekti kepudilian kami terhadap anggota jemaat karena banyak dari mereka sudah orang tua, dan tidak lagi bisa melhat dengan jelas saat membaca firman atau nyanyian kidung pujian. Penuturan penatua gereja menyadarkan saya oh begitulah pentingnya kepedulian terhadap kebuthan riel jemat. Dan ini juga menjadi teladan untuk gereja-gereja bagimana kita perduli terhadap kebutuhan riel, persoalan riel yang dihadapi oleh anggota jemaat bahkan yang dihadapi sesama manusia.
Sauara-saudaa keksih untuk pentngya kepduliaan, solidaritas terhadapo sesama, kita banyak belaajr dari Yesus, dan dalam kontek kita ini dari Paulus. Paulus dalam desakannya kepada jemat Galatia dengan tegas menyebtu:  “ bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu.” Kata bertolongan-tologan diterjemahkan dari bahasa Yunani bastazete verb imperative present active 2nd person plural from bastazw, bastazw, artinya bertolong-tolonganlah kamu, bahasa karo Sisampat-sampatenlah,  tapi makna bastazw juga mencakup “sabar menghadapi, tahan terhadap”. Dan Paulus juga menggunakan “kata beban” Dalam bahasa Yunani ta barh , ta barabeban-beban”. Tentu beban yang dimaksud di sini merujuk kepada beban yang di alami oleh manusia, yang dialami oleh jemaat, dalam pergumulannya sehari-hari. James GD. Dunn menyebut ketika Paulus berfikir tentang beban itu artinya mencakup seluruh beban mansuia, misalnya keadaan sakit-penyakit, cacat phisik, demikian juga tanggungjawab yang ditanggung oleh budak, janda dan tanggujawab finansial.  Kenneth S Wues, dalam Galatians in the Greek New Testament menyebut beban itu adalah semacam tanggungjawab anggota jemaat untuk kesejahteraan rohani anggota jemaat. Dari pandangan ini boleh kita simpulkan bahwa beban yang dimaksud adalah seluruhnya beban yang dialami manusis baik beban jasmani pun beban rohani. Itu menjadi tanggugnjawab gereja. Untuk Paulus mengajak dengan pemberitaan ini kepada kita dan mendesak gereja  untuk tidak sor sendiri, enak sendiri dengan sistem-sistem yang kita miliki, sor dengan penginjilan ke dalam saja, tetapi juga menyadari kan pentingnya menanggung beban sesama jemaat dan manusia secara luas. Gereja dipanggil menjadi berkat bagi orang lain, menangung beban orang lain / sesama. Dan gereja seperti inilah yang disebut Paulus Gereja yang memenuhi hukum Kristus. Itu berarti kita sebagai gereja tubuh Krsitus perlu menilai diri sendiri dan mengkritisasi diri sendri, dan system system yang sudah ada agar sadar bahwa tugas dan tanggungjawab kita sangat luas dan komprehensif. Seperti apa yang dsiampakan Yesus kita adalah garam dan terang dunia. Untuk menerangi dan  menggarami dunia sekitar yang sudah sarat dengan keegosian dan hidup narcistisme. Inilah pangggilan kepada kita untuk senantiasa memikirkan ulang lagi bagaimana peran kita dalam persekutuan, kesaksian, pelayanan di tengah-temah zaman yang semakin egois, dan narcistisme. Dan semua ini kita lakukan sebagai buah dari kasih Allah yang sudah dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.
Dan sikap saling menanggung beban, terhadap sesama tentu itu dapat terjadi bila ada komunikasi yang akrab yang satu dengan yang lain, bila ada pemahaman bahwa kita adalah bersaudara di dalam Kristus. Tidak ada perbedaan.  Dan dalam memprlihatkan kepeuliaan kita ini diperlukan juga sikap sabar menghadapi, tahan terhadap berbagai pergumulan, tantangan yang ada. Dan satu keeyakinan kita sebagai umat Allah, Kristus memampukan kita menjadi saranaNya untuk mengatasi beban bagi jemaat demi kemuliaan TUHAN dan kesejahteraan umatNya. Amin.

Syalom, mejuah-juah. Horas. Sebelum saya melanjutkan penjelasan khotbah ini, saya bersyukur kepada TUhan dan kepada panitia saya diberi kesempatan untuk membawa renungan dalam ibadah pembukaan Konven Pendeta ini. Ketika ditawari untuk tugas ini saya bertanya kenapa Ibu Pdt Bertha Tarigan, keanpa saya? Dan di jawabnya karena kebetulan thema yang dibahas adalah dari Perjanjian Baru pak. O begitu. Dan akhirnya saya saya sambut dengan baik. Saudara-saduara sebelumnya izinakn saya memperkenalkan diri di tengah-tengah kita, sekalipun sudah ada yang mengenal dan belum kenal. Nama saya Jonriahman Sipayung. Orang tua tinggal di Saran Padang, Dolok Silou. Melayani sebagai dosen fulltime di STT Abdi Sabda. Sudah berkeluarga, istri boru Purba, juga ikut bersama kita. Dia cantik dulu, dan juga saat ini. Kami dikarunia dua putra. Kami tinggal di Kampus STT dan bertetangga dengan Pdt. Dr. Jadiaman Perangin-angin. Dan tugas di STT di samping sebagai dosen saat hingga 2013 dipercaya sebagai Direktur pasca sarjana.
Saudara kekasih, mari kita lihagt kitab Galatia  ini. Paulus sebagai penulis kitab ini berbicara bahkan mendesak jemaat pentingnya hidup dalam tanggugjawab sebagai umat Allah. Pentingya hidup solidaritas terhadap terhadap manusia sebagai umat Allah. Kenapa saudara Paulus menekankan pentingnya bahasa tanggungjawab dan bahasa solidaritas ini. Untuk menjawab ini saya mengutip pandangan sorang ahli PB John M.G Barclay, dalam bukunya Obeying the truth, Paul Ethich in Galatians, menrutnya tujuannya adalah untuk mengajak menilai diri sendiri dan mengkritisasi diri sendri, supaya memiliki tingkat kesadaran etika yang tinggi.” Tentu ajakan ini sesuai dengan fenomena jemaat yang terjadi ketika itu yang sarat dengan keegosian, sarat narcisme merasa sor, enak sendiri. Saudara –saudara kekasih , kata narsisme kita pasti tau itu. Saya perhatikan di kamus kata narcis terkait dengan nama seorang Pemudua Narkiskos, yang dalam sejarahnya dia jatuh cinta dengan bayangannya sendiri, sutu ketika, ada sebuah kali yang bersih dan dalam. Dan dia meliaht banyangananya di kali ini. karena begitu cintanya dengan dirinya sendiri, sehingga dia hendak mengambil kecantikan itu tanpa dia sadar dia telah masuk ke dalam sungai yang dalam dan akhirnya meninggal. Sehingga orang yang narcis adalah orang yang hanya memperhatikan diri sendirinya , kelompok diri sendiri, marganya sendiri, dan tidak perduli dengan orang lain. Dan termasuk juga tidak perduli dengan kepedihan dan beban orang lain. Sosok mansuia seperti ini lambit  atau cepat akan megnamali hal yang sama seperti Narkiskos itu sendiri, tenggelam, jatuh sendiri, hanyut.
Saudara-saudara sama halnya dengan gereja-gereja saat ini termasuk gereja GBKP, nampaknya semangat kehadiran ke gereja kita menurun misalnya kalau di gereja kami GKPS kehadiran sekitar 35-40  % , dan 60 % lagi barangkali ada yang malas, ada yang pergi ke gereja lain. Dan nampaknya gereja beraliran kharismatik saat ini meningkat persentasi kehadirannya, persekutuannya. Tentu dengan keadaan ini gereja perlu menilai diri bahkan mengkritisi diri sendiri. Jangan-jangan tingkat kepedulian, dan tingkat kesolideran kita semakin kurang atau kabur? Atau jangan –jangan kita hanya sor sendiri dengan sistem-sistem yang tidak menyentuh dan tidak relevan lagi saat ini. Ini menjdi sebuah pertanyaan yang perlu dikaji lebih dalam lagi.
Saya membuat sebuah contoh gereja-gereja di China, bertumbuh pesat sekali saat ini. Mengapa contoh di China karena saya pernah studi di Hong kong 3,6 tahun. Di China sekalipun kegiatan-kegiatan gereja di awasi namun pertumbuhan gereja luar biasa banyaknya. Seperti yang dikatakan Mathews George Chunakara, Direktur Urusan Internasional dan Kesaksian Umum WCC, bahwa pertumbuhan Kristen di Cina "unik dan eksplosif." Awal tahun 1970-an, kekristenan hanya sekitar tiga juta orang namun sekarang, jumlah mereka mencapai 130 juta jiwa. Statistik ini saya kira ada benarnya. Hal ini saya hubungkan di Hong Kong sendiri yang jumlah penduduknya hanya 7 juta lebih sedikit tapi sekolah pendeta di Hong Kong ada 40 sekolah. Dan tentunya mereka yang yang lulus dari sekolah ini nantinya akan berdampak besar bagi dunia sekitarnya. Sekalipun mereka tidak semua menjadi pendeta, tetapi bekerja di lembaga-lembaga social atau NGO,  tetapi hidup mereka akan menjadi kesakisan bagi banyak orang. Dan saya kira semuan itu berdamapk pertumbuhan orang percaya. Banyak kegiatan-kegaitan yng ddilakuakn bukan hanya pegninjilan lagnsung, ttapi penegignjilan secara tidak langsung, msalnya dengna membuka les bahasa inggris, membuka posko-posko keseahtan, dan kegiatan social lainnya. Saya pernah mengkuiti sebuh kebaktian di Quanchou, ketika saya saya mau masuk ke gereja dan saya terkejud dei depan gereja itu di sediakan kaca mata yang biasa dipakai siapa saja ng membutuhkan. Dan kaca mata ini dalam jumlah yang banyak ada sampai 50 buah, dan saya bertanya kepda pentua gereja itu, pak itu kaca mata itu untuk apa? Jawab mereka itu adalah bekti kepudilian kami terhadap anggota jemaat karena banyak dari mereka sudah orang tua, dan tidak lagi bisa melhat dengan jelas saat membaca firman atau nyanyian kidung pujian. Penuturan penatua gereja menyadarkan saya oh begitulah pentingnya kepedulian terhadap kebuthan riel jemat. Dan ini juga menjadi teladan untuk gereja-gereja bagimana kita perduli terhadap kebutuhan riel, persoalan riel yang dihadapi oleh anggota jemaat bahkan yang dihadapi sesama manusia.
Sauara-saudaa keksih untuk pentngya kepduliaan, solidaritas terhadapo sesama, kita banyak belaajr dari Yesus, dan dalam kontek kita ini dari Paulus. Paulus dalam desakannya kepada jemat Galatia dengan tegas menyebtu:  “ bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu.” Kata bertolongan-tologan diterjemahkan dari bahasa Yunani bastazete verb imperative present active 2nd person plural from bastazw, bastazw, artinya bertolong-tolonganlah kamu, bahasa karo Sisampat-sampatenlah,  tapi makna bastazw juga mencakup “sabar menghadapi, tahan terhadap”. Dan Paulus juga menggunakan “kata beban” Dalam bahasa Yunani ta barh , ta barabeban-beban”. Tentu beban yang dimaksud di sini merujuk kepada beban yang di alami oleh manusia, yang dialami oleh jemaat, dalam pergumulannya sehari-hari. James GD. Dunn menyebut ketika Paulus berfikir tentang beban itu artinya mencakup seluruh beban mansuia, misalnya keadaan sakit-penyakit, cacat phisik, demikian juga tanggungjawab yang ditanggung oleh budak, janda dan tanggujawab finansial.  Kenneth S Wues, dalam Galatians in the Greek New Testament menyebut beban itu adalah semacam tanggungjawab anggota jemaat untuk kesejahteraan rohani anggota jemaat. Dari pandangan ini boleh kita simpulkan bahwa beban yang dimaksud adalah seluruhnya beban yang dialami manusis baik beban jasmani pun beban rohani. Itu menjadi tanggugnjawab gereja. Untuk Paulus mengajak dengan pemberitaan ini kepada kita dan mendesak gereja  untuk tidak sor sendiri, enak sendiri dengan sistem-sistem yang kita miliki, sor dengan penginjilan ke dalam saja, tetapi juga menyadari kan pentingnya menanggung beban sesama jemaat dan manusia secara luas. Gereja dipanggil menjadi berkat bagi orang lain, menangung beban orang lain / sesama. Dan gereja seperti inilah yang disebut Paulus Gereja yang memenuhi hukum Kristus. Itu berarti kita sebagai gereja tubuh Krsitus perlu menilai diri sendiri dan mengkritisasi diri sendri, dan system system yang sudah ada agar sadar bahwa tugas dan tanggungjawab kita sangat luas dan komprehensif. Seperti apa yang dsiampakan Yesus kita adalah garam dan terang dunia. Untuk menerangi dan  menggarami dunia sekitar yang sudah sarat dengan keegosian dan hidup narcistisme. Inilah pangggilan kepada kita untuk senantiasa memikirkan ulang lagi bagaimana peran kita dalam persekutuan, kesaksian, pelayanan di tengah-temah zaman yang semakin egois, dan narcistisme. Dan semua ini kita lakukan sebagai buah dari kasih Allah yang sudah dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.
Dan sikap saling menanggung beban, terhadap sesama tentu itu dapat terjadi bila ada komunikasi yang akrab yang satu dengan yang lain, bila ada pemahaman bahwa kita adalah bersaudara di dalam Kristus. Tidak ada perbedaan.  Dan dalam memprlihatkan kepeuliaan kita ini diperlukan juga sikap sabar menghadapi, tahan terhadap berbagai pergumulan, tantangan yang ada. Dan satu keeyakinan kita sebagai umat Allah, Kristus memampukan kita menjadi saranaNya untuk mengatasi beban bagi jemaat demi kemuliaan TUHAN dan kesejahteraan umatNya. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar