Minggu, 12 Juni 2011

REFLEKSI JUBILEUM 50 TAHUN GKPS KM 7

REFLEKSI JUBILEUM 50 TAHUN GKPS KM 7
(11 Juni 1961-11 Juni 2011)
Oleh
Pdt. Dr. Jonriahman Sipayung
(Dosen dan Direktur Pasca Sarjana STT Abdi Sabda Medan)

PENGANTAR
Kita bersyukur kepada Tuhan atas penyertaanNya terhadap gerejaNya GKPS KM 7 yang tetap eksis melaksanakan Tri-Tugas gereja: Bersekutu, Bersaksi dan Melayani hingga saat perayaan 50 tahun sudah Gereja KM 7 eksis di dunia ini. Tentu momentum perayaan 50 tahun menjadi suatu pesta syukuran kepada Allah atas kebaikan dan kesetiaanNya menyertai, menguatkan serta memberkati perjalanan gerejaNya hingga kini. Namun bukan hanya sebagai momentum syukuran saja tetapi juga sebagai introspeksi diri sejauh mana hidup kita sudah membangun persekutuan yang bersifat inclusif bukan eklusif, egaliter, bermurah hati terhadap sesama, serta berupaya memikirkan pembebasan orang-orang yang terikat dalam berbagai bentuk kekerasan dan perbudakan saat ini. Tentu hal itu dapat terwujud bila prinsip-prinsip persekutuan Tahun Sabat dan Tahun Yobel kita maknai dan berlakukan dalam persekutuan hidup kita. Untuk itulah kita semua terpanggil melalui Jubileum 50 tahun GKPS KM 7 ini kiranya mendorong kita lebih mewujudkan pembebasan dari berbagai bentuk ketertindasan, ketertinggilan dan keterikatan-keterikatan dalam berbagai bentuk dan bukan sebaliknya menjadi penindas-peindas kecil. Kiranya lewat semangat dan roh J 50 ini Tuhan Yesus sang aktor pembebas itu memperlengkapi dan menguatkan kita menjadi pembebas dalam berbagai bentuk dan bukan sebaliknya menjadi penindas-penindas kecil di tengah keluarga, jemaat maupun masyarakat.
SELINTAS TENTANG JUBILEUM
Kata Jubileum berasal dari akar kata Yobel dalam bahasa Ibrani, yang artinya domba jantan (ram). Arti kata Yubileum ini mengacu kepada “tanduk” domba jantan yang digunakakan sebagai terompet yang digunakan untuk menyanyikan dan mengumandangkan suka cita karena karya Tuhan yang membebaskan orang-orang yang tertindas. Dalam arti ini tepat sekali kata Jubileum dalam bahasa Inggris disebut “Jubilation” artinya sorak-sorai kegirangan. Dan orang yang bersorak-sorai kegirangan disebut jubilant atau jubilaris. Pelaksanaan Tahun Yobel dilaksanakan sekali dalam lima puluh tahun sesuai dengan kentuan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Menurut Christoper J.H. Wright bahwa latarbelakang perayaan Jubileum ini terkait dengan institusi ekonomi, yaitu yang berkaitan dengan Keluarga (family) dan tanah (Land). Selama pelaksanaan Tahun Sabat (Kel 23:11; Im 25:1-7) tanah tidak boleh ditanami, para budak harus dibebaskan dan hutang-hutang dilunasi (Im 25:35-38) . Demikian juga selama tahun Yobel (Im 25:8-12) semua keluarga Israel harus dikembalikan kepada status awal mereka dan demikian juga harta benda harus dikembalikan kepada pemilik aslinya. Dengan prinsip ini suku-suku Israel tetap dalam satu kesatuan, kesetaraan yang seimbang atau egaliterian equilibrium. Tidak ada pembeda-pembedaan satu sama lain. Pertanyaan kita adalah mengapa ada keluarga yang dikembalikan kepada aslinya, para budak dibebaskan dan utang-utang dilunaskan? Hal ini terkait dengan masyarakat Israel ketika itu, di mana bila ada orang miskin dia dapat meminjam uang kepada orang kaya (kredditor), dan biasanya uang pinjaman harus dibayar dengan bunga yang sangat mahal. Bila peminjam (debtor) tidak dapat membayar utang-uangnya, maka konsekwensinya dia dijadikan menjadi budak tuannya, sebagai pembayararan dari hutang-hutangnya (bnd. 2 Rj 4:1; Yer 34:8-16). Namun ketika tahun Yobel tiba maka sang budak harus dibebaskan, dan demikian juga uang- yang dipinjam menjadi lunas. Demikian juga rumah-rumah dan ladang-ladang yang selama ini telah disita namun dengan hadirnya tahun Yobel dikembalikan kepada pemilik awal. Sebab bagi bangsa Israel tidak ada perbudakan kekal selama-lamanya, sebab mereka adalah juga hamba Allah dan tidak punya hak monopoli tanah untuk selama-lamanya alasannya, sebab tanah adalah milik Allah. Oleh karena itu Tahun Yobel menjadi momentum suka cita bagi orang-orang yang miskin dan terpinggirkan / marginalize. Suka cita ini disebabkan karena hutang-hutangnya lunas, budak dibebaskan, tanah dan rumah-rumah yang disita dikembalikan serta pengampunan bagi orang tawanan. Dengan prinsip-prinsip tahun Yobel ini kepada kita diperlihatkan aksi Allah untuk pencegahan kemisikinan kekal dan mengusahakan tindakan kesamaan di antara sesama anak-anak Allah manusia. Dengan kata lain lewat aksi karya Allah ini Artinya Pemberlakun prinsip-prinsip tahun Yobel ini nyata penggenapannnya di dalam pelayanan Yesus di bumi. Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat 11:4-5). Yesus juga meruntuhkan segala tembok-tembok pemisah dalam masyarakat. Yesus menjamah orang kusta yang dianggap najis, menjamah perempuan yang sakit pendarahan (Mrk 5:25-34), Yesus juga mau duduk sama satu meja dengan orang –orang yang dicap secara sosiial dipinggirkan seperti pemungut cukai dan orang berdosa. Semuanya tindakan Yesus ini menjadi bukti nyata sikap solidaritasNya kepada setiap orang yang dipinggirkan disepelakan di tengah-tengah masyarakat. Ini menjadi contoh keteladanan yang berharga bagi kita saat ini. Yesus tidak mempermalukan dan tidak menggagap rendah orang lain tetapi Dia menempatkan manusia dalam posisi yang sama sebagai gambar atau citra Allah. Bahkan kita adalah anak-anak Allah tanpa ada pilih kasih. Bila kita hubungakn kembali ke Tahun Yobel hutang-hutang yang tak terbayarkan oleh manusia dibebaskan, (diputihkan) demikian juga dalam Perjanjian Baru Yesus dalam aksi solidaritsnya melunasi hutang dosa mansia yaitu melalui pengampunanNya (Mat 18: 21-35). Semuanya tindakan ini memperlihatkan solidaritas Yesus yaitu untuk membangun persekutuan yang inclusive di tengah-tengah kehidupan umat manusia.




REFLEKSI JUBILEUM 50 TAHUN GKPS KM 7

1. Perayaan Jubileum 50 tahun merupakan Tahun spesial bagi kita. Jubileum menjadi tahun suka cita dan tahun pembebasan. Kristus telah menggenapi tahun Jubileum di dalam Perjanjian Baru melalui hidup dan perkataan yang disampaikanNya: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku: untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Apakah yang kita boleh refleksikan dalam hidup kita saat ini? Tentu kita mengharapkan ada pembebasan terjadi di dalam hidup kita. Kebebasan apakah yang kita harapkan terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga dan dalam persekutuan jemaat ini? Misalnya bebas dari sikap dendam, iri hati dan kebencian kepada sesama. Bandingkan bebas dari berbagai penyakit seperti yang disampaikan oleh Rahmat Affandi dalam bukunya “Hentikan Kebiasaan berbahaya bagi Anak”. Dia menyebutkan ada 15 kebiasaan orang tua yang membahayakan perkembangan anak. Beberapa contoh untuk yang perlu kita bebaskan yaitu penyakit ASMA (asal marah), TBC (terlalu bawel dan cerewet, KUDIS (kurang disipilin, BISUL (Bapak Ibu sibuk urusan keluarga terlantar), POLIP (Pola asuh inkonsisten dan permisif) dll. Bebas dari berbagai penindasan termasuk mengenai KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Bebas dari kuasa-kuasa kegelapan atau perdukunan. Dan kita semua terpanggil untuk mengentaskan kemiskinan, ketertinggilan dalam berbegai bentuk. Bagaimana kita mewujudkan ini? Mari kita diskusikan dan konkritkan bersama-sama.
2. Perayaan J 50 tahun ini menjadi moment introspeksi bagi hidup kita untuk memperlihatkan sikap bermurah hati seperti yang dipesankan Yesus kepada setiap muridNya, “Hendaklah kamu murah Bebas dari hati, sama seperti BapaMu adalah murah hati” (Luk 6:36). Dan sikap bersyukur tentu inilah panggilan kita bersama mengubah keadaan, di dalam persekutuan dan keluarga kita untuk memperlihatkan sikap belas kasih kepada sesama tanpa membeda-bedakan. Tentu Allah lebih berkenaan kepada kita bila hidup kita memperlihatkan kemurahan hati, perduli dan mempraktekkan kebenaran dari pada ritual, doa, ibadah rutinitas semata-mata. Mari renungkan dalam-dalam dan refleksikan apa yang disebut hamba Tuhan ini: “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-7; bnd. Amos 5:21, 24).
3. Dengan perayaan Jubileum 50 tahun in, persekutuan, kesaksian dan pelayanan kita semakin nyata gereja ini menjadi gereja yang inklusif, gereja yang terbuka, dan menjadi berkat bagi sesame tanpa ada kesan memisah-misahkan sekalipun kita memiliki latar belakang pendidikan, pengalaman, dan keadaan sosial yang berbeda.Karena memang kita adalah satu di dalam Kristus dan tidak ada pembedaan atau pemisah-misahan (Gal. 3:28). Mari kita refleksikan melalui tindakan dan perbuatan terhadap sesaae anggota dan juga terhadap masyarakat di sekitar gereja ini. Inilah jemaat yang penuh tanggung jawab dan jemaat yang menjadi kesukaan bagi Tuhan Yesus bila kesatuan, kesaksian dan pelayanan nyata bagi sesame (bnd. Gereja Kristen mula-mula, persekutuan mereka ditandai dengan kasih satu sama lain, persekutuan ditandai dengan persekutuan yang inklusif dan bukan ekslusif ( baca Kis 2:44-47) dan buahnya nayata banyak jiwa-jiwa yanag percaya kepada Yesus adalah uhan dan Juruselamat..

4. Dengan rasa syukur kita kepada Tuhan atas J 50 tahun GKPS KM 7 mari wujudnyatakan kepedulian kepada anggota jemaat, termasuk peduli dalam persoalan-persoalan yang sedang dihadapi jemaat ini. Moment J 50 ini menyadarkan kita kembali pentingya meningkatkan kunjungan pelayanan pastoral kepada jemaat. Hal ini sesuai dengan penuturan seorang ibu anggota jemaat pertama GKPS KM 7 menyebutkan bahwa saat ini ada beberapa anggota pemuda GKPS ini di mana kedua orang tua mereka sudah meninggal dunia, mereka sangat membutuhkan perhatian dan kunjungan kita. Demikian juga ada orang tua (ibu) sudah lama tidak pernah datang ke gereja ini bahkan sudah hampir ada 10 tahun, demikian juga sesuai dengan penuturan Pengantar Jemaat GKPS KM 7 (St. Drs. Joseph saragih) menyebtukan masih ada beberapa onggota jemaat ini khususnya bapa (suami) sama sekali tidak pernah datang ke kebaktian minggu dan kebaktian partonggoan di sector kecuali di rumahnya sendiri. Semuanya ini menjadi tantangan bagi gereja untuk memikirkan bagaiamana metode yang relevan sehingga jemaat Tuhan merasakan bahwa dia telah dibebaskan dari dosa dan kematiannya. Dengan adanya J50 ini mari kita pikirkan hal-hal apa yang relevan dapat kita kerjakan sehinggga jemaat Tuhan dapat terlayani dengan baik. Momentum j 50 mari ubah cara paradigma kita yaitu lebih memprioritaskan pelayanan kepada anggota jemaat, dan bukan gedung phisik gereja. Dengan J 50 tahun mari kita tinggalkan segala bentuk perbudakan / parjabolonan di tengah-tengah keluarga, misalnya bebas dari perbudakan karena ketergantungan dari Narkoba, keterikatan parjabolonan kuasa-kuasa kegelapan. Dan hidup kita kiranya menjadi contoh pembebas dalam berbagai bentuk bukan sebalaknya penindas dan pelaku kekerasan di tengah-tengah keluarga.
5. Sejak berdirnya gereja KM 7 ini tanggal 11 Juni 1961, awalnya jemaat ini beranggotakan hanya 11 keluarga, namun karena kuat kuasa Roh Kudus memberkati persekutuan dan kesaksian serta pelayanan, sehingga jemaat ini terus mengalami perkembangan hingga saat ini. Jemaat KM 7 saat ini berjumlah 182 keluarga, dan 684 jiwa. Satu sisi bila dihitung dari jumlah perkembangan statistik ini selama 50 tahun hanya rata-rata sekitar 14 keluarga pertahun penambahannya. Ini menunjukkan perkembangannya sangat minim, namun di sisi lain jemaat ini sudah memekarkan (manjaehon) beberapa jemaat, seperti GKPS Helvetia, GKPS Sei Semayang dan GKPS Sola Gratia Medan. Keadaan ini menunjukkan jemaat ini sudah dapat digolongkan sebagai jemaat Induk dan jemaat yang dewasa. Kerinduan kita jangan nantinya jemaat yang dimekerakan lebih maju dan dewasa dibandingkan dengan jemaat induknya tetapi marilah kita sama-sama bertumbuh dan berbuah yang lebat menjadi kesaksian bagi warga dan masyarakat. Sehingga dengan semangat Jubileum 50 tahun GKPS KM 7 kita juga akan membutktikan sub thema tahun 2011: “Pasirsir Hita ma Kuria in Ase matoras Ibagas na Mandalankon pandiloon ni Tuhan” (Ephesus 4:11-14) menjadi nyata dalam kehiduapn keseharian kita dan itu semua demi kemuliaan Tuhan Yesus.
6. Selamat ber J50 Tuhan Yesus memberkati.

Daftar kepustakaan:
Abineno, J.L. Ch. Manusia dan Sesamanya di Dalam Dunia, Jakarta: BPK GM, 1987.
Baker, David L, Tight Fist or Open Hands, Wealth and Poverty in Old Testament Law, Grand Rapids, Mic / Cambridge: 2009.

Sipayung, Jonriahman “The Attitudes of Paul Towards Slaves and Slavery in Philemon and Theological Implication For Modern Slavery”, Dissertation, Hong Kong : Lutheran Theological Seminary, 2008.
Thompson, J.Milburn, Keadilan & Perdamaian Tanggung Jawab Kristiani dalam Pembangunan Dunia, ter. Oleh Jamilin Sirait dkk, Jakarta: BPK GM, 2009.
Vaux, Roland de, Ancient Israel Vol.1, New York: MCGraw-Hill Paperback, 1961.
Wright, Christoper J.H. “Jublee, Year Of” dalam The Anchor Bible Dictionary, vol 3 H-J, David Noel Freedman (ed), New York: Doubleday, 1992.

Medan 17 Mei 2011


Pdt. Dr. Jonriahman Sipayung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar